Showing posts with label hadis. Show all posts
Showing posts with label hadis. Show all posts

Tuesday, 7 May 2019

Masuk Surga dengan Cara Bersalaman dengan Nabi Muhammad SAW

#tadarushadis 2

Ketika berkunjung ke Indonesia pada akhir 2018, Syeh Iwadhul Karim memberikan ijazah kitab _Aqdu jauhari atsamin fi arbaina khadisan min akhaditsa syaidil mursalin_ dan kitab karangannya sendiri yaitu _Imdadu raufurrohim bi ba’dhi musalsalati wa murwiyati syaih Iwadhul Karim._

Dua kitab ini merupakan kitab hadis, dijilid jadi satu, karena hanya 69 halaman.

Kitab yang pertama sesuai dengan judulnya, berisi 40 hadis yang disadur dari beberapa kitab hadis, yaitu yang diambil dari kutubus sittah dan kitab-kitab yang lain. Sedangkan kitab yang kedua berisi hadis yang didapatkan oleh Syeh Iwadh secara musalsal (berantai), sampai Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Menariknya beberapa hadis yang tertulis disitu sanadnya nyambung pada Syeh Yasin al-Fadani, guru besar hadis berdarah Padang.

Pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas hadis pertamanya saja. Sebuah hadis yang beliau dapatkan dari gurunya, Syeh Abdurrahman Muhammad Ahmad al-Maliki. Abdurrahman berkata dengan menyalaminya lalu menyampaikan sebuah hadis:
من صا فحني او صافح من صافحني الي يوم القيامه دخل الجنه
Barang siapa menyalamiku, atau menyalami orang yang menyalami ku sampai hari kiamat, maka masuk surga.

Menurut Abdurrahman, gurunya yang bernama Syeh Muhammad Yasin al-Fadani juga melakukan hal yang sama, menyalaminya lalu menyampaikan hadis di atas. Gurunya Syeh Yasin al-Fadani, yang beranama Syeh Umar Hamdan a-Mihrosi juga melakukan hal yang sama. Yang demikian itu nyambung terus sampai ke Rosululloh melalui jalur al-Ma’mur Abu al-Abbas al-Mulatsim.

Di Jombang ada juga yang menyampaikan hadis ini, yaitu Kyai Jamaludin Ahmad. Kemungkinan besar Kyai Jamal dapat sanad dari Kyai Sahal Mahfudz, yang tak lain adalah saudara iparnya. Sedangkan Kyai Sahal sendiri adalah santri dari Syeh Yasin al-Fadani.

Syeh Iwadh meng ijazahkan kitabnya tersebut, sekaligus menyampaikan hadis musyafakhah di Ponpes Rejoso. Ketika menyampaikan hadis musyafakaha itu, semua orang yang hadir berebut untuk salaman dengan beliau.

Maka agar tidak terjadi kekecauan yang tidak diinginkan, panitia penyelenggara akhirnya membuat peraturan, bahwa yang boleh salaman dengan Syeh Iwadh hanya para ustadz pondok Rejoso yang ditunjuk panitia.

Sedangkan hadirin yang lainnya cukup salaman dengan ustadz-ustadz tersebut.

Penulis sendiri sudah berkesempatan salaman dengan salah satu ustadz tersebut.

Alhamdulillah..., ternyata ada ya cara masuk surga dengan mudah. Hehehe

M. Fathoni Mahsun

Upaya Imam Turmudzi Mengejar Hadis tentang Thoharoh

#tadarushadis 1

Bab Thoharoh merupakan bab pertama dari kitab Sunan Turmudzi, yang juga merupakan salah satu dari enam kitab hadis (kutubus sittah). Hadis pertama dalam kitab tersebut adalah:
لاتقبل صلاة بغير طهور, ولاصدقة من غلول

_Tidak lah diterima sholat seseorang tanpa bersuci, serta tidak (dianggap) shodaqoh harta yang didapat dari korupsi._

Dalam mendapatkan hadis ini Imam Turmudzi mengejarnya hingga ke beberapa orang. yaitu kepada: (1) Qutaibah bin Said, juga kepada (2) Abu Awanah dari Simak bin Harbi, juga kepada (3) Hunnad, juga kepada (4) Waqi’ dari Isro’il dari Simak, dari Mus’ab bin Said dari Ibnu Umar dari Nabi muhammad SAW.

Sehingga bisa disimpulkan, ada 4 jalur sanad yang didapatkan Imam Turmudzi dalam mendapatkan hadis ini.

Selanjutnya imam Turmudzi juga memberikan keterangan tambahan, bahwa ada sedikit perbedaan redaksi dari Hunnad, yaitu:” الا بطهور”
Sehingga dengan jalur sanad yang demikian, Abu Isa mengatakan bahwa hadis ini merupakan hadis yang paling shohih dan paling hasan di dalam bab Thoharoh yang ada di kitab Sunan Tirmidzi.

Ketika menjelaskan tentang hadis ini, KH. Taufiq Mukhid Pengasuh Ponpes Sunan Ampel Jombang mengatakan, bahwa ini memberikan pelajaran bagi kita boleh belajar satu hal pada beberapa guru. Bahkan beliau yang juga mursyid thoriqoh Qodiriyah wa Nahsabandiyah mengatakan: “Boleh mendalami thoriqoh Qodiriyah wa Nahsabandiyah tidak hanya pada satu guru.” Itu berarti Mursyid tidak boleh tertutup, dengan melarang-larang jama’ahnya belajar pada mursyid lain.

Syarat kesucian dalam sholat, sebagaimana disinggung hadis di atas, juga mencakup batalnya wudhu karena tertidur. Pernah pada tahun 1994, jamaah haji asal Jombang ketika mendengar adzan pada pukul 03.00 dini hari, langsung bersiap-siap sholat subuh. Ditunggu-tunggu ternyata tidak kunjung terdengar iqomah. Lalu mereka pun berinisiatif melakukan sholat subuh sendiri. Tak lama setelah itu mereka pun tidur.

Tanpa diduga, ternyata pada pukul 04.30 terdengar adzan lagi. Yang ini asli adzan subuh. Kyai Taufiq yang ketika itu tidak tidur membangunkan orang-orang yang tertidur tersebut, sontak mereka pun ikut sholat lagi, tanpa wudhu, mau wudhu juga tidak tahu tempatnya dimana, wong baru pertama pergi haji. “Lha berarti orang sekian banyak itu wudhunya batal, tidurnya aja sampai ngorok dan dalam posisi rebahan.” Tandasnya berkelakar.

M. Fathoni Mahsun